MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA
1. KAIN BATIK TRUNTUM
No Inventaris : TN
Ukuran : P. 242 cm, L. 104 cm
Koleksi Museum Sono Budoyo Yogyakarta
2. KAIN BATIK KASATRIYAN
Bangunan
pokok pola ini dsegi empat dengan satu bulatan di tengahnya. Isi bidangnya terdiri
dari pola parang/lereng yang bernuansa Islam, pola nitik bernuansa Budha,
simbol- simbol bernuansa Hindu dan tradisional misalnya kawung. Dalam motif ini
mengandung nilai-nilai estetis kesatuan, kerumitan, dan kesungguhan (greget),
disesuaikan dengan masa kini motif ini mempunyai makna sebuah pesan agar ke
semua kesatriya nusantara (yang berjiwa pemimpin) wajib melindungi budaya luhur
yang ada di bumi pertiwi. Biasa dikenakan sebagai kain dalam upacara kirab
pengantin sebelum kedua mempelai duduk di kursi pengantin.
No
Inventaris TN
P.
240cm, L. 105cm
Koleksi
Museum Sono Budoyo Yogyakarta
3. KAIN
BATIK SIDO ASIH
Sido
berarti menjadi, asih berarti sayang, mengasihi. Motif ini melambangkan harapan
hidup bersama dalam rasa saling menyayangi, mengasihi di kala suka dan duka
dengan lambaran taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana Sido Mukti, Sido
Asih juga dikenakan oleh pengantin di saat upacara panggih atau ijab kabul.
No
Inventaris: TN
Ukuran
:P. 240cm, L. 105cm
Koleksi
Museum Sono Budoyo Yogyakarta
4. KAIN BATIK SIDO MUKTI
Batik
motif Sidomukti memiliki unsur-unsur pokok yang terdiri dari motif gurda/lar,
dan memiliki motif pendukung pohon hayat, tumbuhan, kerang, bangunan, dan motif
kupu- kupu. Gurda berasal dari kata Garuda. Menurut kepercayaan Jawa, Garuda
merupakan burung tunggangan dari Batara Wisnu, oleh karena itu garuda juga
dijadikan sebagai lambang dari matahari. Burung garuda merupakan burung yang
memiliki ukuran yang cukup besar, maka menurut kepercayaan Jawa burung ini dianggap
memiliki kedudukan yang penting dan tinggi. Motif pohon hayat merupakan motif
khayalan yang memiliki sifat sakti dan kuat/perkasa. Pohon hayat merupakan
lambang dari kehidupan. Motif tumbuhan merupakan lambang dari kesejahteraan,
kehidupan, dan kesuburan. Motif kerang menggambarkan dunia bawah air yang
berarti sumber dari kelapangan hati. Motif bangunan berupa bentuk yang
menggambarkan semacam rumah yang terdiri dari lantai dan atap. Motif bangunan
melambangkan rumah, ketentraman, dan dapat mengayomi keluarga. Sedangkan motif
kupu-kupu merupakan lambang dari keindahan dan kelembutan. Pada batik
Sidomukti, semua motif memakai warna coklat kebiruan artinya dalam menjalani
suatu kehidupan atau jabatan yang tinggi seseorang harus memiliki sikap yang
lapang dada serta dapatmelindungi diri sendiri dan. Warna putih melambangkan
ketulusan, ketentraman, dankelembutan. Sedangkan warna hitam pada latar
melambangkan kedamaian danketenangan.
Secara
keseluruhan motif batik Sidomukti mengandung makna kemakmuran atau harapan
untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Kemakmuran di sini tidak hanya
berupa materi yang diperoleh dari kerja keras dan ketekunan, tetapi juga dapat
mencapai keluhuran budi dalam berkehidupan sehari-hari.
Penggunaan
batik motif Sidomukti antara lain pada saat upacara perkawinan yang digunakan
oleh kedua mempelai yaitu pada prosesi ijab dan prosesi panggih. Memiliki makna
agar mempelai pengantin dapat mencapai kemakmuran dalam kehidupan
berumahtangga.
No
inventaris TN
Ukuran
P. 250 cm, L. 104 cm
Ukuran Koleksi Museum Sono Budoyo Yogyakarta
5. KAIN BATIK SIDO LUHUR
Batik motif Sidoluhur merupakan batik tradisional Yogyakarta yang terdiri dari rangkaian susunan unsur-unsur motif pokok yaitu motif meru, pohon hayat, sawat serta memiliki motif tumbuh-tumbuhan sebagai motif pendukungnya yang diletakkan disetiap sudut susunan belah ketupat, sedangkan untuk motif isen-isennya terdiri dari motif cecek dan motif sawut. Pada batik Sidoluhur ini, warna yang dipakai pada motif umumnya adalah warna soga yang melambangkan kesuburan kedamaian seperti yang disimbolkan oleh pohon hayat dan meru yang merupakan lambang dari kehidupan serta warna putih pada latar melambangkan kesucian dan ketenangan. Kata meru berasal dari Gunung Mahameru. Gunung Mahameru dianggap sebagai tempat bersemayam atau tempat tinggal bagi Tri Murti, yaitu Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Brahma, dan Sang Hyang Siwa, dimana Tri Murti ini dilambangkan sebagai sumber dari segala kehidupan yaitu sumber kemakmuran dan segala kebahagiaan hidup di dunia. Motif pohon hayat merupakan suatu simbol manusia dalam kehidupannya untuk mencapai kehidupan yang sempurna. Pendapat lain mengatakan bahwa dalam seni kebudaan Indonesia, pohon hayat merupakan suatu bentuk motif pohon khayalan yang memiliki sifat kuat, perkasa, dan sakti sebagai lambang kehidupan. Motif tumbuhan merupakan lambang dari kesejahteraan, kehidupan, dan kesuburan. Motif sawat atau sayap Kepercayaan Jawa yang berkembang dahulu telah mempercayai bahwa para dewa sebagai kekuatan yang mengendalikan alam semesta (Batara Indra), dimana dewa ini memiliki senjata yang disebut dengan wajra atau bajra, yang berarti kilat yang digunakan dengan cara dilemparkan. Dalam motif batik, senjata Batara Indra ini diwujudkan dalam bentuk sawat, dengan harapan agar si pemakai mendapatkan perlindungan dalam kehidupannya. Kata sido berarti jadi, menjadi, atau terlaksana. Motif batik yang berawalan sido memiliki filosofi agar apa yang menjadi harapan bisa tercapai atau terlaksana. Sedangkan luhur memiliki makna keluhuran, Batik motif Sidoluhur memiliki filosofi dapat mencapai keluhuran, baik keluhuran materi dan non materi. Bagi orang Jawa, salah satu tujuan hidup adalah untuk mencari keluhuran materi artinya bisa tercukupi segala kebutuhan ragawi dengan bekerja keras sesuai dengan jabatan, pangkat, derajat, maupun profesinya. Sementara keluhuran budi, ucapan, dan tindakan adalah bentuk keluhuran non materi. Motif batik Sidoluhur memiliki makna dan harapan kepada si pemakai agar dapat menjadi seseorang yang memiliki budi pekerti yang luhur, kuat dan sabar dalam menghadapi setiap masalah, serta diharapkan menjadi seseorang yang perkasa (tidak lemah). Sifat-sifat tersebut sangat dibutuhkan dalam menjaga kehidupan rumah tangganya agar tercipta kehidupan yang harmonis, tentram, dan selalu mendapatkan ketenangan hidup. Motif batik Sidoluhur biasa dikenakan oleh pengantin wanita yaitu pada prosesi ijab dan prosesi panggih. Makna dari motif ini adalah, bahwa mempelai bermakna dari segi materi dan non materi di mana kedua mempelai dapat hidup berkecukupan dan keluhuran budi, tindakan, serta ucapan. Selain itu juga digunakan dalam acara mitoni yang memiliki makna agar bayi yang akan dilahirkan kelak memiliki sifat berbudi pekerti luhur dan memiliki sopan-santun.
No Inventaris :TN
Ukuran :
P. 238 cm, L. 105 cm
Koleksi Museum Sono Budoyo Yogyakarta
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)

Komentar
Posting Komentar