MUSEUM SULAWESI UTARA
Kain
Bentenan dibuat di Tombulu, Tondano, Ratahan, Tombatu, dan wilayah lainnya di
Minahasa namun begitu nama bentenan diambil dari nama wilayah pelabuhan utama
di Sulawesi Utara yaitu Bentenan karena dari pelabuhan inilah pertama kali kain
Bentenan di ekspor pada abad 15-17 ke luar Minahasa.
Kain
Bentenan sendiri memiliki tujuh motif yaitu Tinompak Kuda (tenun dengan aneka
motif berulang), Tononton Mata (tenun dengan gambar manusia), Kalwu Patola
(tenun dengan motif tenun Patola India) dan Kokera (tenun dengan motif bunga
warna-warni bersulam manik-manik), Tonilama (tenun dari benang putih, tidak
berwarna dan merupakan kain putih), Sinoi (tenun dengan benang warna warni dan
berbentuk garis-garis), dan Pinatikan, tenun dengan garis-garis motif jala dan
bentuk segi enam, merupakan yang pertama ditenun di Minahasa.
No
inventaris: TN
Ukuran:
P. 240 cm, L. 114 cm
Koleksi
Museum Sulawesi Utara
2. ΚΑΙΝ ΒΕΝΤΕΝAN HITAM COKLAT
Kain
Bentenan dibuat di Tombulu, Tondano, Ratahan, Tombatu, dan wilayah lainnya di
Minahasa. Kain bentenan ini memiliki beberapa motif seperti: Kain Bentenan
sendiri memiliki tujuh motif yaitu Tinompak Kuda (tenun dengan aneka motif
berulang), Tononton Mata (tenun dengan gambar manusia), Kalwu Patola (tenun
dengan motif tenun Patola India) dan Kokera (tenun dengan motif bunga
warna-warni bersulam manik-manik), Tonilama (tenun dari benang putih, tidak
berwarna dan merupakan kain putih), Sinoi (tenun dengan benang warna warni dan
berbentuk garis-garis), dan Pinatikan, tenun dengan garis-garis motif jala dan
bentuk segi enam, merupakan yang pertama ditenun di Minahasa.
No
Inventaris: TN
Ukuran:
P. 264 cm, L. 118 cm
Koleksi
Museum Sulawesi Utara
3. KAIN BANTENAN UNGU
Disebut
kain bentenan karena kain ini dibuat pertama kali di Desa Bentenan. Pada mulanya
kain ini terbuat dari kulit kayu sebagai ritual pengobatan tradisional. Dengan
adanya jalur perdagangan sutera, maka motif, hiasan, warna, dan bahan bakunya
mulai berubah dengan menggunakan benang sutera dan katun. Kain ini terakhir
dibuat tahun 1900 di Desa Bentenan, Kabupaten Minahasa Tenggara
No
Inventaris: TN
Ukuran
: P. 252 cm, L. 121 cm
Koleksi Museum Sulawesi Utara
4. KAIN BETENAN MERAH
Kain
Bentenan dibuat di Tombulu, Tondano, Ratahan, Tombatu, dan wilayah lainnya di
Minahasa. Keistimewaan dari kain
Bentenan ini yaitu proses pembuatannya yang rumit dan memakan waktu yang lama.
Kain
Bentenan sendiri memiliki tujuh motif yaitu Tinompak Kuda (tenun dengan aneka
motif berulang), Tononton Mata (tenun dengan gambar manusia), Kalwu Patola
(tenun dengan motif tenun Patola India) dan Kokera (tenun dengan motif bunga
warna-warni bersulam manik-manik), Tonilama (tenun dari benang putih, tidak
berwarna dan merupakan kain putih), Sinoi (tenun dengan benang warna warni dan
berbentuk garis-garis), dan Pinatikan, tenun dengan garis-garis motif jala dan bentuk segi enam, merupakan
yang pertama ditenun di Minahasa.
No
inventaris : TN
Ukuran
: P. 276 cm, L. 107 cm
Koleksi
Museum Sulawesi Utara
5. BAJU KOFFO
Kain
Koffo/baju koffo terbuat dari bahan serat manila atau serat pisang hutan. Kain
ini sudah dikenal sejak abad ke-17 bahkan sebelumnya. Fungsinya sebagai pakaian
para Datu, Raja, atau Bangsawan.
No
inventaris: TN
Ukuran:
P. 276 cm, L. 107 cm
Koleksi Museum Sulawesi Utara
6. PAPORONG
Paparong
adalah sehelai kain yang dipakai dengan cara diikatkan pada bagian kepala dan
menutupi dahi. Paparong biasanya terbuat dari kain kofo yang kemudian dibentuk
segitiga sama sisi dengan alas selebar 3 sampai 5 cm yang dilipat sebanyak tiga
kali.
Paporong
terbagi menjadi dua, yaitu paporong lingkaheng yang dipakai oleh pria dari
golongan masyarakat biasa dan paporong kawawantuge yang dipakai oleh pria dari
keturunan bangsawan.
No
inventaris: 109/52
Ukuran:
P. 105 cm, L. 28cm
Koleksi
Museum Sulawesi Utara
7. BAHAN
Bahan
ini merupakan kulit kayu yang di gunakan untuk membuat baju. Masyarakat Sulawesi Utara
setidaknya mengenal enam jenis pohon yang dapat digunakan sebagai bahan seperti
pohon beringin putih,pohon beringin biasa,pohon Nunu wiroe,pohon Nunu Tea
Tonohera, pohon Nunu Malo/Mao ,dan lainnya. Bahan ini juga berfungsi untuk
menutupi tubuh yang digunakan didalam berbagai kegiatan upacara adat
di Sulawesi utara.
No
Inventaris : TN
Ukuran:
P. 20 cm, L. 13 cm
Koleksi
Museum Sulawesi Utara
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)

Komentar
Posting Komentar