MUSEUM SULAWESI SELATAN "LAGALIGO"

 

1.     KALAMBI GAMBARA SUBI'


Wastra/kain semacam ini awalnya ditenun untuk menyambut kelahiran anak dan digunakan lagi semasa hidup anak tersebut pada waktu menikah dan pada waktu meninggal dunia. Setelah pemiliknya meninggal, bagian ujung kain dikelim sehingga tidak dapat digunakan kembali untuk upacara adat. Benang katun pintal tangan yang diwarnai dengan pewarna alam campur benang pabrik yang diwarnai dengan pewarna kimia.

No Inventaris  : 1917 A/E

Ukuran            : P. 320 cm, L. 160 cm

Koleksi Museum Sulawesi Selatan "Lagalilo"


2.     BARUMBUNG

Sarung umumnya terbuat dari dua wastra/kain panjang identik yang dijahit bersama, akan tetapi kedua wastra/kain tersebut ditenun sebagai satu lembar kain yang sangat panjang. Wastra/kain tersebut kemudian dipotong menjadi dua bagian yang lebih pendek tetapi berukuran sama panjangnya dan kemudian dijahit bersama pada satu sisinya. Akhirnya, bagian ujung yang dipotong dijahit berbentuk selongsong. Teknik lompat lungsi (biru dan kuning) merupakan teknik yang sering digunakan untuk menghiasi barumbung.

No Inventaris  :03.1132

Ukuran            : P. 254 cm, L. 40 cm

Koleksi Museum Sulawesi Selatan "Lagalilo"


3. PORI

Wastra/kain tenun yang besar dan berat dibuat di lembah Rongkong di Kabupaten Luwu di Sulawesi Selatan, juga di Kabupaten Mamuju di Sulawesi Barat. Wastra/kain dari daerah tersebut sangat sulit dibedakan. Keduanya ditenun menggunakan teknik ikat lungsi, pori, dan sangat populer di Sulawesi Tengah di mana wastra tersebut dikenal sebagai mbesa. Contoh ini menampilkan sebuah figur besar, motif yang dirancang dengan cerdik, terdiri dari empat merak yang ditempatkan sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk perahu yang berhadapan.

No Inventaris  : 1585/E

Ukuran            : P. 358 cm, L. 119 cm

Koleksi Museum Sulawesi Selatan "Lagalilo"


4.     LIPA AWIK

Bahan dari kain intallasak (Bugis) atau kain brokat berwarna dasar hitam dan oranye, dengan motif bunga dan sulur daun. Berfungsi sebagai pakaian adat bangsawan Bugis Makasar yang dipergunakan sebagai sarung pengantin baik pria maupun wanita.

No Inventaris :03.628

Ukuran           : P. 132 cm, L. 194 cm

Koleksi Museum Sulawesi Selatan "Lagalilo"


5. LIPA CAULU

Bahan dari benang kapas yang ditenun secara tradisional berwarna dasar merah hati dengan motif geometris berbentuk pucuk rebung/tumpal serta diberi benang emas. Berfungsi sebagai pakaian adat Bugis Makasar

No Inventaris  :

Ukuran            : P. 104 cm, L. 204 cm

Koleksi Museum Sulawesi Selatan "Lagalilo"


6. LIPA' SABBE (SARUNG)

Masyarakat Bugis terkenal akan tenunan sutranya, yang biasanya berupa sarung. Hiasan dapat diterapkan dengan teknik songket, seperti pada sarung ini. Songket merupakan teknik agak baru di daerah ini dan tidak pernah digunakan untuk mengisi penuh selembar kain. Contoh ini merupakan setengah sarung saja.

No Inventaris  : 1920/E

Ukuran            : P. 368 cm, L. 55 cm

Koleksi Museum Sulawesi Selatan "Lagalilo"

Komentar

Postingan Populer